Sabtu, 16 Mei 2015
Sabtu, 16 Mei 2015 2
Ini malem minggu ke berapa-ratus kali aku sendirian. Dulu waktu masih pacaran, setiap Adi pulang untuk cuti, dan kebetulan pas banget ketemu sama malam minggu, tidak pernah absen dia mengajakku keluar. Sekadar nonton di 21 kemudian dinner di pinggir jalan makan nasi goreng harga ceban atau cuma pergi ke kedai ramen keju kesukaanku di ... . Dia selalu mengalah dan menyerahkan semua pilihan kepadaku.
"Kita mau makan di mana, Di?"
"Terserah kamu aja La. Kamu mau makan di mana emang?"
"Kok terserah aku terus sih? Sekali-kali kamu dong yang nentuin. Kan aku juga ngga boleh terus-terusan mentingin kemauan aku sendiri."
"I've told you, honey. Whatever you want, I will do it for you. Apapun. Kamu minta bintang? Aku petikin, hon."
"Apaan sih kamu, garing banget tau."
Adi gombalin aku? For sure, bukannya romantis malah bikin enek. Emang bukan dia banget kalo lagi ngrayu begitu. But since that moment, I know he loves me much. Dan setelah kejadian itu, males juga aku tanya Adi. Ujung-ujungnya ya tidak pernah makan ala-ala candle light dinner.
Candle light dinner? Makan di restoran yang harga segelas perasan air jeruknya dibandrol tigapuluh ribu ke atas? Wearing a dress so sexy which can show my breats? That's really not me. Serius. Bukan aku banget. Aku lebih suka makan di tempat di mana aku dan Adi bisa ngobrol tanpa canggung dan tertawa lepas: nasi goreng harga ceban pinggir jalan.
Aku dan Adi memang bukan tipe manusia yang segala sesuatunya harus dibicarakan dengan serius. We always laugh at something weird and silly that only us understand. Life is never turned boring. But it doesn't mean that we don't know where we should be serious, ya. Kalau kami sudah membicarakan hal-hal serius, pidato Obama tentang ISIS saja kami anggap kentut. Mudah-mudahan Obama tidak akan pernah membaca tulisanku bagian ini.
You know what? He always look so smart and cool when he could make me laugh. I love him that way.
Tritt! Tritt!
Nama Adi ada di layar Blackberry-ku.
"Assalamualaikum, hon."
"Waalaikumsalam, sayang. Kok baru telpon? Kamu sibuk banget malem minggu begini? Bisa ngga sih bos kamu nggak nganggep kamu robot?"
"Udah deh, ya, Hon. Cape banget aku hari ini."
"Ya habisnya bos kamu itu kebangetan deh. Emang dia amnesia kalau ini weekend dan nggak tau kalau kamu udah punya istri yang wajib denger suara kamu tiap malam? Istri yang ngangenin suaminya sampai mau mampus."
"Ya kan ini udah aku telpon."
"Telpon aja nggak cukup, Di."
Do you think that we could having a sex trough the telephone? Phonesex? We are married, not a teenagers couple anymore!
Jumat, 15 Mei 2015
Sabtu, 16 Mei 2015
Tracklist-nya Ada Band setiap pagi mengalun lewat laptop-ku, entah kenapa, membuatku selalu teringat Adi. Such a wrong thing karena hanya membuatku semakin disiksa rindu, but i loved to. Setiap pagi bahkan, sejak kita masih pacaran. Aku suka hal apapun yang bisa membuatku merasa dekat dengannya.
Adi Arshy, Mikaila Atmajaya...
Jum'at, 15 Mei 2015.
Usia pernikahan kami baru enam bulan lebih 12 hari, hari ini. Iya, 3 November tahun lalu aku dan Adi memutuskan untuk menikah setelah kedua pihak keluarga kami meminta untuk meresmikan hubungan yang sudah kami jalani selama ... kalau Indri bilang sih dua tahun lagi sudah bisa lunas KPR rumah, hehehe. Dan dua minggu setelah kami merayakan honeymoon kami di Karimun Jawa, dia sudah harus pergi meninggalkan aku.
"Sabar dong, hon." jawabnya saat aku, seperti biasa, sudah mulai tidak kuat menahan air mata dan nyerocos tidak jelas memintanya pulang.
"Kamu ambil cuti kek, Di. Emang ngga bisa yah luangin sedikit aja waktu buat aku? Kamu ngga kangen sama aku? Ngga kepengin ketemu aku?"
"Ngga bisa Mikaila sayang. Aku masih harus ngurusin proyek yang kemarin. Maunya memang bisa aku cepetin prosesnya, tapi kamu tau, kan, ngurusin orang banyak itu susah. Sesusah ngurusin kamu kalo lagi ngrengek-ngrengek terus minta aku pulang begini."
Aku tau Adi memang pintar membuatku merasa selalu ingin dekat dengannya. He is so warm. Tipe pria introvert yang tidak terlalu bisa mengungkapkan perasaannya tetapi selalu bisa sabar menghadapi sifatku yang kekanak-kanakan. So patient. Kadang kasian juga sih kalau lagi aku marah-marahin saat we have a routine conversation on the phone at night dan dia meninggalkan aku tidur.
Kenapa harus marah? Jelas saja. Aku merasa Adi adalah rumah paling tepat untukku pulang setelah aku seharian menghabiskan waktu di depan laptop-ku untuk segera menyelesaikan studiku atau sekadar pergi kemana, pokoknya, rasanya wajib menceritakan apapun yang aku rasakan setiap hari, berbagi duniaku dengannya. Tapi belum juga selesai, sudah dia tinggal tidur. Rasanya ingin aku banting Blackberry-ku sampai hancur biar aku tidak bisa mendengar suaranya lagi sekalian. Tapi sayang juga sih ya kalau di banting, the first gift from him since we have a real relationship. Jadul banget memang, but I'm really sure, he passed it with his effort. However, Thanks so much, my handsome.
Aku juga menyadari, all I have to do is do my best and never give up. Aku harus selalu memberikan yang terbaik untuk mempertahankan hubunganku, mempertahankan cintaku, apapun yang terjadi.
Langganan:
Postingan (Atom)
download
Mengenai Saya
- Ela Pramadani
- I'm Ela Pramadani, I'm young, cheerful, patient, full of love, and so on :D
